Tanggal 29 April 2012.
Hari itu seperti biasa, pagi-pagi aku berangkat kerja, tapi ada yang berbeda, hari ini aku tidak begitu semangat. obrolanku kemarin dengan satu-satunya senior "data entri" selalu saja terngiang dipikirannku (jiaaahh "terngiang"....sedikit lebay, no problem). sore itu aku niat ingin pulang belakangan untuk misi mengorek-ngorek (inget, bukan tempe orek ya...) informasi tentang data entri dikantor ini. jam pulang dia keluar, langsung aku mengikutinya dan aku cegat didepan parkiran, lalu kami ngobrolin kerjaan ngalor-ngidul, sampai pada kalimat yang dia ucapkan "sampai elo jenggotan juga, gajinya cm segitu-gitu aja". STOP!!!, saya mendadak mual! smua keinginanku tentang gaji pertama untuk dialokasikan kesana-kemari buyar seketika. ohh..."segitu", jawabku membalas omongannya.
30 menitan aku pulang karena udah sebatang rokok kuhabiskan untuk ngobrol bersamanya dan smua udah jelas. sepanjang perjalanan aku cuma mikirin, lanjut apa engga? lanjut apa enggak? dalam pikiran positifku kemarin-kemarin, mungkin ini cuma gaji training buat beberapa bulan saja, tapi emang sistem gajinya begitu, apa yang dikerjakan, ya itu gajinya (Rp 150,- per lembar entri). bagaimana perasaan bapak, yang sebelumnya bangga anak terakhirnya udah kerja akhirnya harus memendam lagi kebanggaannya! Ah...seberat apapun inilah hidup, kadang kenyataan nggak sejalan dengan keinginan, dan Tuhan tau apa yang terbaik, it's okay!
Selasa, 30 April 2013, ini adalah gajian mingguanku, aku pikir nggak ada yang salah dengan pengalamanku, ada hikmah yang aku ambil. seberapapun gaji yang akan aku terima, aku akan mensyukurinya, karena itu adalah jerih payahku sendiri. toh selama ini aku sudah tau kisaran berapa gajiku yang nggak lebih besar dari uang sakuku dari bapak setiap hari aku berangkat kerja.
Stelah menunggu, sebuah anggka muncul dari kertas print-print'an salah satu pegawai keuangan, ......eng ...ing....engggg...heheeeeheee
Rp. 68.300,-.... Alhamdulillah, itu bayaranku 3x masuk kerja kemarin, yang 2 hari (senin dan selasa) dibayar selasa depan. Aku trus tanda tangan dan pulang dan aku putuskan aku keluar dari kantor ini.
Sebenarnya kantor ini nyaman banget, secara beberapa hari aku disana udah punya beberapa temen yang bisa diajak sholat, ngopi, ngrokok dan makan siang pada waktu jam istirahat kantor. dan ada beberapa orang sebut saja, panji, adi, eka (temen seangkatan, heheee), jaka (SVP data entri), dan mami norma (SVP Phone Verivication). Semua nggak mandang bawahan atasan, yang penting sopan...heheee!
ya...mau gimana lagi, aku sudah nggak muda lagi, aku butuh tabungan untuk masa depanku, atau paling enggak buat beliin pakaian buat bapak dan uang kepada keponakan-keponakanku tiap bulannya.
Sampai dirumah, aku langsung cerita sama mbakku yang paling deket sama aku, blaaa bla blaaa... dia bilang, "ya udah gajinya disodaqohin aja". aku langsung bilang, "ya udah gapapa, uang segitu juga nggak bisa buat beliin bapak sesuatu (bukannya sombong ya...hehe). esok harinya uang yang Rp. 6.000,- aku beliian sarapan ketoprak, karena paling enggak aku butuh penghormatan buat tubuhku untuk merasakan hasil jerih payahku selama bekerja. trus yang Rp. 80.000,- sisanya disodaqohin, semoga memberi kelancaran dalam memcari pekerjaan yang akan datang...Amiiin!!!
Akhirnya, bersyukur itu lebh mengayakan kita, apapun yang kita dapat. Tuhan nggak perrnah tidur dan pengalamanku pun nggak akan sia-sia. Tetap berjuang dan berdo'a...PERSIJA selamanya...eh....lho...heheeeheee